onefilyfly

Makanan untuk binatang ternak pengungsi Gunung Sinabung

Published on Dec 3, 2013
OfficialNetNews merupakan Program berita yang berisi berita aktual (hard news, light news, entertainment news), feature singkat dan feature mendalam. Beragam cerita yang menginspirasi, menebarkan hal positif, memotivasi serta memberi semangat yang dibawakan dengan gaya yang lebih dekat dan menghibur.

aku1-2

A Lone

seringkali aku memercayakan hidup hanya pada langkah kaki. berjalan sendirian atau banyak orang bukan masalah. tapi kesendirian seringkali menyeretku pada nostalgia masa lalu. kepahitan yang bisa tiba-tiba datang tanpa sempat kusiapkan sebuah upacara penyambutan. kakiku ternyata lebih mengerti ke mana harus berjalan. dia lebih mengenal kelokan gang demi gang, dia fasih terhadap jalanan terjal pegunungan, bahkan dia hatam jalan setapak tanpa akhiran. maka berjalanlah aku di sini… Siapa mengira, keadaan membuat pernyataan, membawaku kearah yang tak pernah kuduga sebelumnya, membawa menuju tempat terbenamnya matahari kala senja. Seringkali ku menghadapkan wajahku kearah terbitnya matahari…sungguh disisi bumi inilah aku berdiri sendirian, menapaki perjalanan sang waktu detik demi detik tanpa mengetahui sedikit pun pengetahuan tentang rahasia akhir darinya. perjalanan yang hanya mengikuti aliran sungai menuju muara, menduga-duga seperti apa keadaan di sana.Sendiri membuat segalanya penuh dengan kesunyiaan dan kehampaan, berdiri dan terduduk datang silih berganti tak kalah sang jiwa terkukungkung dalam penjara masa lalu.


Dan siapa yang mengira, sesuatu akan membawaku kembali ke sini. hutan lindung, air terjun, cericit burung, semuanya terhampar begitu saja di depan mata. seketika sunyi kembali menyergapku. mengirimkan aromanya yang khas dan kental. aku duduk, menikmati semuanya, dalam mendung, dalam gerimis yang tiba-tiba mengguyur, yang seketika berubah menjadi hujan lebat. aku diam. alam memberikan pesonanya. nyatanya, bukan hanya senja yang indah, bukan juga matahari terbit yang seringkali membuat terkesan jutaan orang. pagi hari dengan hujan lebat di tengah hutan lindung adalah pesona alam yang tak bisa juga kuabaikan.

ya, kesendirian terkadang membuat seseorang bahagia atau sebaliknya.
dan aku, tak ingin sendirian malam ini.


Andaikata Aku Bisa Memberi Lebih Banyak Lagi

life is hard if you think is hardprambanan-jogja

Seperti yang telah biasa dilakukan ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, maka Rasulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.
Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”. Istrinya almarhum menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”. “Apa yang dikatakannya?”. “Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.” “Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab, “Suami saya mengatakan “Andaikata lebih jauh lagi…andaikata yang masih baru…..andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah SAW tersenyum “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.

Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “Andaikan lebih jauh lagi”. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, “Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

Begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga menimpa kita sendiri. “Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.” (QS.Al Isra’: 7)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s