Perempuan Menembus Batas, Inspirasi 21 April 2010

Posted: April 21, 2010 in history of life

Tidaklah berlebihan kiranya jika para perempuan pejuang menjadi inspirasi bagi semua orang. Dalam perjalanan sejarah bumi ini, banyak perempuan yang menjadi inspirator dalam kehidupan ini, kegigihan mereka dalam memperjuangkan keyakinannya atas suatu hal terkadang melampau batas-batas kewajaran, melalpaui segala keterbatasan sebagai perempuan biasa. Pantaslah sejarah mencatat mereka sebagai pejuang-pejuang kehisupan tidak hanya untuk membela martabatnya tetapi juga membela dan memperjuangkan hak-hak orang lain.

Pejuang – pejuang itu ada yang terekam baik dalam sejarah melalui buku dan tulisan-tulisan para kuli tinta, dan bahkan ada yang tersembunyi di balik remangnya kehidupan dunia, yang mungkin tidak akan pernah terungkap selain mereka yang mersakann langsung kiprah perjuangan mereka.

Keberanian dan kelembutan ini jika dipadukan akan membentuk kekuatan yang maha dasyat, itu lah yang dilakukan oleh para pejuang-pejuang perempuan. Tentulah mereka tidak pernah berpikir dan berniat untuk ditulis dalam tinta emas, semata-mata hanya untuk kemaslahatan kehidupan di dunia ini bagi seluruh manusia secara wajar. Kita mengenal berbagai macam profesi yang digeluti dalam dunia perempuan, mulai dari ibu rumah tangga,pengemis, pengamen sampai kaum pekerja dan profesioal dalam berbagai tingkatan, sepanjang mereka berbuat dan memperjuangkan kehidupan orang lain adalah para pejuang-pejuang kemanusiaan dalam berbagai tingkatan.

Beberapa kisah dan catatan yang di sadur dari berbagai tulisan di beberapa media kiranya dapat mewakili kisah-kisah heroik kaum perempuan yang begitu banyak sepanjang sejarah untuk mengenang kehebatan para pejuang perempuan sekaligus menjadi sumber inspirasi. Tentulah ruang yang sangat terbatas ini sangat tidak cukup untuk merangkum kisah-kisah kaum pejuang perempuan, tetapi setidaknya dapat mengingatkan kembali betapa dibalik kelembuatan tersembunyi sebuah kekuatan mempegaruhi kehidupan dibumi ini.

RA Kartini

Sebagai seorang perempuan pribumi pada masa itu Kartini sangatlah beruntung karena dia bisa menamatkan diri sekolah di ELS (Europese Lagere School) dan bisa berbahasa Belanda tulis dan baca. Namun, setelah usia 12 tahun, seperti halnya wanita lainnya, dia harus menjalani pengitan yang berarti tidak boleh keluar dari pekarangan rumahnya.

Namun, karena memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat maju, gejolak Kartini tidak bisa tertahankan. Dia sering melakukan korespondensi dengan sahabat penanya di negeri Belanda untuk saling bertukar pandangan mengenai perkembangan jaman yang sedang terjadi.

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.

Namun demikian, cita-cita Kartini untuk bersekolah lebih tinggi memang tidak bisa diwujudkannya secara sempurna setelah dia “dipaksa” oleh ayahnya untuk menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat pada tahun 1903 yang ternyata sudah memiliki tiga istri. Kartini yang terlambat mengetahui hal tersebut menjadi terluka hatinya.

Usia Kartini juga tidak panjang karena pada usia 25 tahun atau setahun setelah pernikahannya dia harus meninggal dunia, tepatnya pada tanggal 17 September 1904, yakni 4 hari setelah dia melahirkan putranya yang pertama sekaligus yang terakhir, RM Soesalit.

Sebagai seorang wanita yang memiliki konsep pemikiran yang sangat maju terhadap bangsanya, Kartini tidak hanya pantas sebagai pejuang wanita. Bahkan dia merupakan salah satu dari sedikit pejuang perintis kemerdekaan Indonesia dari tangan Belanda. RA Kartini layak menjadi pejuang “Emansipasi Bangsa Indonesia”.

Sumber :http://athenaratu.blogspot.com/2010/03/kartini-pejuang-emansipasi-bangsa-hari.html

Euna Lee dan Laura Ling,

Pejuang Garis Depan Krisis Kemanusiaan

Penulis : Yulia Permata Sari

PANASNYA neraka dunia tepatnya di kamp kerja paksa di Korea Utara sempat nyaris dirasakan Euna Lee dan Laura Ling. Upaya duo jurnalis televisi Amerika Serikat ini untuk membongkar sindikat perdagangan manusia di perbatasan Korea Utara-China, membuat keduanya terpaksa mendekam selama beberapa bulan di dalam penjara.

Tak heran jika kemudian nama Euna dan Laura bercokol di dalam daftar ”Women of the Year” versi majalah Glamour baru-baru ini, sebagai bentuk apresiasi atas keberanian mereka menyingkap berbagai krisis kemanusiaan di berbagai penjuru dunia.

”Mereka adalah perempuan luar biasa yang berani dan banyak akal, melaporkan sebuah cerita yang tidak pernah dilaporkan orang lain. Mereka memperlihatkan keberanian dan inisiatif luar biasa selama penderitaan mereka,” puji mantan Wakil Presiden AS Al Gore, kepala stasiun Current TV.

Euna, produser, dan Laura, reporter, telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengungkapkan penyakit masyarakat, mulai dari perbudakan tenaga kerja di Brazil hingga krisis HIV di India. Hasil peliputan mereka berhasil mengundang decak kagum masyarakat dunia.

Musim semi lalu, Euna dan Laura yang bekerja untuk Current TV terbang ke Asia untuk melakukan investigasi terhadap situasi mengerikan yang terjadi di sana. Mereka berupaya mengungkapkan penderitaan kaum perempuan yang menyeberangi perbatasan Korea Utara menuju China untuk menghindari kelaparan, namun justru menjadi mangsa pelaku perdagangan manusia.

Lantas, tiba-tiba saja nasib kedua jurnalis ini menjadi buah bibir. Pada 17 Maret 2009, Euna dan Laura ditangkap di perbatasan Korea Utara-China dan dihukum atas tuduhan melakukan ”tindak kejahatan berat” yang tidak spesifik dan dijebloskan ke dalam penjara.

Mimpi buruk itu berlangsung selama 140 hari. Euna dan Laura nyaris terancam dikirim masuk ke dalam kamp kerja paksa selama 12 tahun. Sementara saluran diplomatik AS berupaya keras menegosiasikan pembebasan mereka, saudara perempuan Laura, Lisa Ling, yang juga adalah seorang jurnalis televisi investigasi, terus menjaga agar kasus ini tetap berada dalam pantauan publik.

Semua kerja keras tersebut tidak sia-sia. Pada 4 Agustus 2009, duo tersebut akhirnya menghirup udara kebebasan. Lisa berharap, pengalaman Laura dan Euna mampu mendorong orang-orang untuk mengatasi krisis kemanusiaan di dunia.

Meskipun tangguh, kehidupan penjara yang keras rupanya tetap tidak mudah untuk dijalani. Hal itu diakui Euna, yang tidak kuasa menahan kerinduan terhadap Hana, putrinya yang berusia lima tahun. ”Seakan hatiku mau meledak,” katanya.

Dan kebenaran itu brutal. Setidaknya itulah yang dirasakan duo tersebut. Kengerian yang satu ditukar dengan kengerian yang lain. ”Para perempuan pengungsi dijual seperti hewan ternak, dipaksa menjadi pelacur atau menjadi istri petani,” kisah Euna.

Komitmen Euna dan Laura untuk mengekspos situasi buruk yang menyebabkan mereka ditangkap mengundang decak kagum dari berbagai pihak, termasuk kalangan pers sendiri. ”Kami bergantung penuh kepada perempuan-perempuan seperti mereka untuk memastikan kebenaran terungkap,” ujar Clothilde Le Coz dari Reporters Without Borders USA.

Meskipun demikian, Laura sendiri tidak mengharapkan simpati. Yang diinginkannya hanyalah perubahan. ”Mengambil risiko demi menarik perhatian untuk para perempuan ini sudah menjadi pekerjaan kami. Itu sebabnya aku melakukan apa yang kulakukan saat ini,” katanya berani. (OL-08)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/read/2009/12/04/2459/10/Pejuang-Garis-Depan-Krisis-Kemanusiaan.

Meena Keshwar Kamal

Ia berjuang mati terbunuh pada usia 30 tahun karena memperjuangkan hak-hak wanita Afganistan. Meena menyebut wanita Afganistan dengan sebutan singa yang tertidur, yang ia janjikan akan terbangun dan meraung suatu hari nanti. Pada tahun 1977, di usia 20 tahun, dia meluncurkan gerakan pertama di negeri itu untuk memperjuangkan hak-hak wanita bersama-sama kelompoknya yang disebut Revolutionary Association for the Woman of Afganistan (RAWA).

Sasarannya: memulihkan demokrasi, persamaan antara laki-laki dan perempuan, keadilan sosial, dan pemisahan agama dari urusan negara. Tetapi di negara yang terjerumus ke dalam tradisi dan penjajahan Soviet itu, kepercayaan Meena dapat menjadi ancaman bagi hidupnya dan dapat membuat dia menjadi sasaran pembunuhan. Sepuluh tahun setelah pendirian RAWA, dia diculik dan dibunuh. Banyak agen-agen Afgan dari biro intelijen komunis lokal yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan itu.

Meski meninggal di umur 30 tahun, Meena telah menanam benih-benih perjuangan bagi hak-hak wanita Afgan yang didasarkan pada kekuatan pengetahuan. Dia percaya jika wanita mampu membaca dan menulis, dan jika mereka dapat berkomunikasi dan belajar mengenai dunia maka mereka akan menemukan kekuatan mereka sendiri dan dapat membuat perbedaan di dalam lingkungan masyarakat mereka sendiri.

Setelah invasi Soviet pada tahun 1979, dia mendirikan sekolah-sekolah dan rumah yatim piatu bagi para pengungsi di perbatasan menuju Pakistan. Sekolah-sekolah itu menawarkan kesempatan yang sebelumnya tidak tersedia bagi wanita-wanita muda Afgan.

Saat ini, untuk pertama kali dalam sejarah Afgan, wanita-wanita sudah berkampanye, dan menang, duduk di dalam parlemen nasional. Salah satu dari wanita itu adalah Gulfar Jalal, seorang teman masa kecil Meena yang sekarang mewakili provinsi Kunar. “Aku berjuang, karena ini adalah mimpi Meena,” kata Gulfar

Rachel Corrie, Martir dari Amerika

Pada hari Rabu (10/03), pengadilan distrik Haifa, Israel, menjalankan sidang hari pertama perkara tewasnya Rachel Corrie, seorang aktivis asal AS, ketika berdemosntrasi menentang penggusuran kediaman warga Palestina pada tahun 2003.

Dalam sidang tersebut, seorang saksi Inggris, Richard Pursell, menyatakan bahwa ia melihat sebuah bulldozer militer Israel melindas dan menewaskan Corrie ketika ia sedang berusaha menghentikan penggusuran rumah warga Palestina di Gaza.

Pursell juga merupakan seorang aktivis di Rafah pada saat itu. Pursell menggambarkan tewasnya Corrie sebagai “peristiwa yang menimbulkan shock dan dramatis.”

Rachel Corrie adalah seorang gadis dari Olympia, AS, yang bergabung dengan International Solidarity Movement (ISM). Ketika Corrie berstatus sebagai mahasiswi Evergreen State College, ia mengambil cuti dan terbang ke Jalur Gaza pada tanggal 22 Januari 2003. Saat itu, sedang berlangsung gerakan intifadah kedua.

Di markas ISM Tepi Barat, Corrie menjalani pelatihan selama dua hari. Dalam pelatihan tersebut, Corrie mendapatkan pelajaran tentang cara-cara menghindari cedera dalam berdemontrasi: menggunakan jaket fluorescent, tidak berlari, tidak ketakutan, berkomunikasi dengan menggunakan megaphone, dan memastikan keberadaannya diketahui. Pada tanggal 27 Januari 2003, Corrie dan William Hewitt yang juga berasal dari Olympia pergi ke pos penjagaan Erez dan memasuki Gaza.

Selama berada di Rafah, Corrie bertindak sebagai tameng hidup (human shield). Corrie dan para koleganya berhasil meyakinkan para warga Palestina bahwa para aktivis berada di pihak Palestina. Warga Palestina mengijinkan para aktivis untuk menginap di rumah mereka dan memberi mereka makan.

Pada tanggal 16 Maret 2003, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membuldoser rumah-rumah yang terletak di antara kamp pengungsi Rafah dan perbatasan Mesir. Alasan IDF, mereka perlu menghancurkan tempat persembunyian kaum gerilyawan dan terowongan penyelundup. Saat itu terdapat tujuh aktivis ISM di tempat itu, empat dari AS – termasuk Corrie – dan tiga dari Inggris. Corrie berdiri di jalur sebuah buldoser Caterpillar D9R. Corrie pun terluka parah. Corrie dilarikan ke sebuah rumah sakit Palestina. Nyawa Corrie, yang saat itu masih berusia 23 tahun, tak dapat diselamatkan.

Muncul perdebatan tentang bagaimana Corrie tewas: apakah ia tewas di tempat kejadian, di ambulan dalam perjalanan menuju rumah sakit, atau di rumah sakit.

Para saksi mata dari ISM mengatakan bahwa tentara Israel menjalankan buldoser dan melindas Corrie dua kali ketika gadis itu sedang mencegah penggusuran rumah Samir Nasrallah, seorang apoteker setempat yang rumahnya juga menjadi tempat menginap para aktivis ISM. Menurut mereka, Corrie sedang berdiri di antara tembok rumah Nasrallah dan buldoser.

Pemerintah Israel dan IDF membantah pernyataan para aktivis tersebut. Tewasnya Corrie adalah sebuah kecelakaan. Sebuah buldoser sedang membersihkan belukar dan tidak terlibat dalam penggusuran. Pengendara buldoser tidak melihat Corrie – posisi pengendara itu tidak memungkinkanya untuk melihat Corrie yang sedang berdiri di balik puing-puing. Corrie tewas akibat tertimbun puing yang terdorong oleh buldoser. Demikianlah kesimpulan yang muncul pada bulan Juni 2003. kesimpula itu dicapai lewat penyelidikan militer oleh kantor pengacara IDF.

Perdebatan seputar kematian Corrie befokus sejumlah hal. Apakah pengendara melihat Corrie? Apakah Corrie cedera akibat dilindas buldoser atau akibat tertimbun puing yang terdorong oleh buldoser?

Keluarga Corrie lantas mengajukan gugatan sipil terhadap negara Israel. Pengacara keluarga Corrie, Hussein Abu Hussein, akan mengajukan argumen bahwa kematian Corrie dapat terjadi akibat kelalaian militer Israel atau merupakan hasil kesengajaan. Jika negara Israel terbukti bertanggung-jawab, keluarga Corrie akan mengajukan tuntutan atas musibah yang telah terjadi.

Sejauh ini, pihak militer Israel mengatakan bahwa mereka tidak bertangung-jawab atas kematian Corrie. Militer Israel juga menuduh Corrie dan kawan-kawan telah berperilaku “illegal, tak bertanggung-jawab dan berbahaya.”

Hussein akan mengajukan sebuah argumen: bukti-bukti menunjukkan bahwa para serdadu melihat Corrie di tempat kejadian bersama para aktivis lain tepat sebelum terjadinya insiden. Para serdadu sebenarnya dapat mengangkap Corrie dan kawan-kawan atau mengusir Corrie dari area tersebut sebelum muncul resiko cedera.

Purssell kini bekerja sebagai penata kebun. Purssell, sebagaimana Corrie, termasuk diantara tujuh aktivis ISM yang menyaksikan upaya penggusuran rumah warga Palestina oleh Israel di Rafah. ISM benar-benar bersifat anti kekerasan, kata Purssell. “Peran kami adalah untuk mendukung perlawanan anti kekerasan Palestina.”

Menurut Purssell, buldoser itu berjalan dengan cepat. Buldoser itu menurunkan pisaunya dan menyorong tanah di dapannya selama buldoser itu berjalan. Ketika buldoser berada kira-kira 20 meter dari rumah tempat Corrie menginap, Corrie naik ke gundukan tanah di hadapannya dan “melihat ke bagian atas buldoser”.

“Buldoser itu terus bergerak maju,” kata Purssell. “Rachel berbalik untuk turun dari gundukan. Tanah masih bergerak, dan ketika dia hampir mendekati dasar gundukan, terjadi sesuatu yang mneyebabkan dia jatuh ke depan. Buldoser terus bergerak maju dan Rachel menghilang dari pandangan di bawah tanah yang bergerak.”

Buldoser terus bergerak maju sejauh empat meter ketika para aktivis mulai berlarian ke depan dan berteriak pada pengendara.

“Buldoser itu melewati titik dimana Rachel jatuh, buldoser itu berhenti dan mundur di sepanjang jalur yang telah dibuatnya. Rachel tergeletak di atas tanah,” kata Purssell. “Ia masih bernafas”. Corrie terluka parah dan meninggal tak lama kemudian.

Sebelum acara hearing dimulai, Craig Corrie, ayah Corrie, mengatakan bahwa ia sekeluarga telah mencari keadilan bagi sang putri. “Saya rasa kebenaran muncul tentang Rachel. Kebenaran adalah awal penyembuhan kami.”

Cindy Corrie, ibu Corrie, mengatakan bahwa keluarganya masih menunggu penyelidikan transparan dan kredibel yang pernah dijanjikan oleh Israel sehubungan dengan kematian putrinya. “Saya hanya ingin mengatakan kepada Rachel bahwa keluarga kami ada di sini hari ini untuk melakukan hal yang benar di sampingnya dan saya berharap dia akan sangat bangga atas upaya yang kami lakukan,“ kata ibunda Corrie. Menurut Cindy Corrie, keluarga Corrie telah mengadakan pertemuan dengan staf wakil presiden AS Joe Biden pada hari Selasa (09/03) untuk membahas kasus tersebut. (es/gd/wp) http://www.suaramedia.com

Prita Mulyasari, Menantang Kesewenangan

Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,

Prita Mulyasari

Alam Sutera

prita.mulyasari@yahoo.com

sumber :http://yanneku.wordpress.com/2009/06/03/kisah-ibu-prita-mulyasari/

Aung San Suu Kyi

Pejuang Perdamaian yang Tak Pernah Putus Harapan

Pembebasan Aung San Suu Kyi dari pasungan politik, ekonomi, dan sosial di Myanmar menyeruak di antara berita mengenai perayaan kemerdekaan Timor Timur dan kemenangan Tim Piala Thomas Indonesia. Pembahasan di berbagai media tentang Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1991 inilah yang memberi inspirasi penulis untuk mengkaji lebih dalam rahasia keberhasilan tokoh kita minggu ini. Ingin tahu hasilnya? Simak pembahasan berikut.

Rela Berkorban

Jika wanita yang lahir tanggal 19 Juni 1945 ini memikirkan diri sendiri, ia tentu akan menerima tawaran pemerintah Burma untuk ke luar dari negara kelahirannya dan tidak pernah kembali lagi. Namun, ibu dua orang anak laki-laki ini memilih untuk tetap berada di negeri tercintanya. Ia mengorbankan kepentingan pribadinya bagi rakyat banyak. Aung San Suu Kyi sadar bahwa rakyat sangat membutuhkan dorongannya agar dapat terus berjuang untuk menegakan demokrasi dan mewujudkan kehidupan yang layak.

Berani Bertindak

Kebanyakan orang hanya merasa kasihan pada penderitaan orang lain, bahkan juga penderitaan diri sendiri, tanpa ada keberanian untuk bertindak mengubah keadaan agar menjadi lebih baik. Mereka hanya bisa mengeluh atau melakukan protes saja tanpa diikuti tanggung jawab untuk melakukan suatu tindakan nyata. Ungkapan “takut bertindak” tidak ada dalam kamus tokoh kita ini. Dengan dibekali rasa tanggung jawab dan semangat juang yang tinggi, puteri Jendral Aung San, pahlawan nasional Burma, menyusun keberanian untuk tampil untuk memperjuangkan hak azasi rakyat Myanmar di berbagai bidang.

Dengan Otak Bukan Otot

Perjuangan pengagum Mahatma Gandhi ini dilakukan tanpa menggunakan kekuatan senjata fisik. Ia percaya bahwa berjuang dengan otot akan menimbulkan banyak korban. Berbagai strategi tanpa kekerasan ditempuhnya agar suara rakyat Myanmar menggelegar di seluruh negeri bahkan di seluruh dunia—berpidato keliling negeri, melakukan interview dengan masyarakat dunia, mengundang pihak oposisi untuk berunding, maupun menulis berbagai artikel tentang penderitaan yang terjadi di negaranya.

Tetap Berharap

Pidato historis Aung San Suu Kyi di depan Pagoda Swedagon tidak hanya memompakan harapan dan semangat untuk terus berjuang bagi sekitar setengah juta rakyat yang datang, tetapi juga telah mencelikan mata pemerintah pada saat itu bahwa sebagian besar rakyat Burma berada di belakang wanita pejuang ini. Rasa ketakutan pemerintah atas kekuatan sang pemimpin partai politik Liga Nasional untuk Demokrasi membuat mereka melakukan berbagai cara untuk membungkamnya—menganulir kemengan partai yang dipimpinya dalam pemilu, dan memenjarakannya. Semua halangan tersebut tidak mematikan harapan puteri Burma ini untuk terus berupaya memperjuangkan nasib rakyat Burma. Dalam tahanan rumahpun Suu Kyi tetap berjuang, melakukan pidato-pidato yang memompakan harapan dan semangat pada rakyat Burma untuk terus berjuang bagi tercapainya demokrasi, perdamaian, keadilan dan kesejahteraan.

Terus Meningkatkan Diri

Sebagai seorang pemimpin, Aung San Suu Kyi sadar bahwa ia harus tetap menjadi saluran inspirasi, informasi, dan motivasi bagi rakyat yang dipimpinya. Untuk itu ia meras perlu senantiasa memompakan ilmu dan informasi baru untuk emningkatkan diri. Dalam tahanan rumahpun tidak menghalanginya untuk terus belajar dan mengasah otaknya. Uang yang diperolehnya dari hasil kemengangannya mendapatkan hadiah Nobel Perdamaianpun disumbangkan untuk membantu rakyat Myanmar untuk terus meningkatkan diri melalui upaya pendidikan.

Kelima kualitas positif ini telah menjadikan Aung San Suu Kyi tokoh panutan tidak hanya bagi rakyat Myanmar yang ikut berjuang bersamanya, tetapi juga bagi penduduk lain di belahan bumi yang berbeda. Dari sang pemimpin yang cinta damai ini, kita bisa belajar untuk lebih mendahulukan kepentingan rakyat banyak, tidak tinggal diam jika melihat ketidakberesan di lingkungan kita, berjuang dengan hati nurani dan akal budi (bukan dengan otot dan senjata), tetap memiliki harapan bahwa badai krisis pasti berlalu, dan berupaya terus meningkatkan diri menjadi pribadi dengan kualitas yang lebih baik. (*)

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/05/3/man02.html

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s