Tinta Merah Pendidikan Indonesia

Posted: January 24, 2009 in kolom

Tinta Merah  Pendidikan Anak-Anak Indonesiah
Lebih dari setengah abad bangsa ini merpa200120deka, tapi darah tetap saja mengalir sepanjang perjalanannya. Tidak terhitung darah yang megaliri bumi pertiwi (bunda pertiwi-red)..bahkan untuk yang tidak pentingpun, taruhanya nyawa. Wajar kiranya jika darah kita mengalir untuk memperjuangkan kemerdekaan, keadilan dan kedaulatan..bahkan ibu pertiwi akan bangga menerima dipangkuannya…membanggakanya sebagai putra terbaik bangsa.
Tapi jika sebaliknya, darah mengalir untuk yang sia-sia..Bunda pertiwi akan meratap sedih…dan marah “wahai putra-putriku apa yang kamu lakukan ?, untuk apa mengalirkan darahmu keharibaanku”  “tidakkah cukup bunda memberikan ananda, kepingan ema sperak,pegunungnan hijau dengan sungai sebagai hiasan, bahkan laut yang luas”. Apa salah bunda mengandung ?
Mari kita simak penggalan cerita-cerita miris, mengiris kalbu dibawah ini, Kisah nyata yeng jumlahnya ribuan, mencorang muka pendidikan kita, moncoreng muka pemimpin negeri ini dari tahun ketahun, moncoreng muka bagi siapa saja yang merasa sebangsa dan setanah air, moncoreng muka mereka yang memiliki KTP WNI.
Ataupun kita tidak merasakan apa-apa atas kejadian ini ?
selasa, 15 Juni 2004 .Bocah SD Gantung Diri Gara-Gara Tak Mampu Bayar SPP SURABAYA – Gara -gara tidak mampu membayar SPP, Miftahul Jannah nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Selepas magrib, bocah 13 tahun yang tinggal di Kelurahan Karang Semande, Kecamatan Karang Malang, Balong Panggang, Gresik, itu menggantungkan setagen sepanjang 395 cm warna putih di lehernya. ………………………
Anak SD itu Mencoba Bunuh Diri  06 Sep 2003 – 6:53 pm .Kasus bunuh diri seorang anak Sekolah Dasar di Garut. Namanya Heryanto, dipanggil Yanto, umur 13 tahun. GATRA edisi 29 Agustus .Yanto memang bisa diselamatkan dan dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung. Namun, gara-gara belitan kabel selama sekitar 10 menit, sel-sel otaknya mengalami kerusakan. Dokter memperkirakan, jika kembali sadar, kemungkinan Yanto bisa mengalami kerusakan ingatan, bisu, atau lumpuh.
Tragisnya, Yanto berusaha bunuh diri hanya gara-gara uang Rp 2500 (dua ribu lima ratus rupiah). Ia malu kepada guru dan teman-temannya, karena tidak dapat membayar iuran kegiatan ekstra kurikuler di sekolahnya. Orang tuanya yang miskin tidak dapat memenuhi kebutuhan uang Rp 2500 itu. ……………..
Seorang ibu muda bernama Mira (37) menenggak racun Senin (7/1) di kamar rumahnya di Jalan Jenderal Urip Sumaharjo RT 28 No 93 Kelurahan 2 Ilir, Sekojo Palembang. Karena anak sulungnya dua bulan tidak bayar SPP.
Kamis, 24-05-2007 10:29:38 NES (14) siswa SMP di Gunung Kidul, Yogyakarta, nekat coba gantung diri hari Selasa lalu (22/5) hanya gara-gara belum bayar Rp 155.000,00 uang karyawisata sekolah ke Cilacap. Untung masih tertolong dan sekarang dirawat di RSUD Wonosari.
Jumat (15/7) petang lalu, penduduk Desa Cikiwul, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, dikagetkan dengan peristiwa bunuh diri seorang siswi SMP 10 Bantar Gebang. Vivi Kusrini nekat mengakhiri hidup dengan menggantung diri memakai seutas tali di kamar mandi rumahnya. Menurut penuturan sang Ayah, mungkin alasan vivi gantung diri karena malu sering diejek teman sekolahnya sebagai anak tukang bubur. Apalagi menjelang tahun ajaran baru ini Vivi belum punya seragam sekolah. (liputan6.com, 16/07/2005)
Kejadian serupa juga menimpa Oman, seorang pelajar kelas enam Sekolah Dasar Karang Asih 04, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/6/2004), yang nekat meminum racun tikus karena tidak mempunyai uang untuk membayar biaya ujian akhir nasional (UAN) sebesar seratus ribu rupiah. Kasus Oman ini mengingatkan kembali kasus bunuh diri yang dilakukan Haryanto, murid SD Megeri Sanding IV Garut, Jawa Barat, pada tahun 2003. Hariyanto juga mencoba bunuh diri karena tidak mampu membayar uang ekstrakurikuler sebesar Rp 2.500 (liputan6.com, 05/06/2004)
Parahnya, gejala bunuh diri yang dilakukan pelajar juga merembet pada anak usia prasekolah. Diduga gara-gara dimarahi ibunya karena tidak mau disuruh mandi, seorang bocah di Blora, Sabtu (14/5) nekad bunuh diri. Renaldi Sembiring (5,9 tahun), pelajar Taman Kanak-Kanak (TK) Pertiwi, Kelurahan Tempelen Kecamatan/Kota Blora Jawa Tengah, ditemukan tergantung di tali plastik jemuran yang berada di kayu penyangga atap dalam ruangan kosong di rumah yang berlokasi di komplek Rumah Dinas Hakim PN Blora, Kelurahan Tempelen Blora. (Republika, 15/05/2005) 3 May 2008 by ypha
Diduga didera rasa bersalah jika tak lulus ujian nasional (UN), seorang siswa SMK Negeri 3 Padangsidimpuan, Polita br Sihite, 19, nekat gantung diri di rumahnya kemarin.
Kejadian seminggu lalu seorang..bocah gantung diri-gara-gara tidak lulus di sebuah SMP negeri. Dan untuk melanjutkan ke SMP swasta orang tuanya tidak sanggup membiayai……..
Masih banyak lagi antrean tulisan diberbagai media tentang kasus-kasus seperti diatas. Jika kita amati factor utama penyebabnya adalah ekonomi dan tekanan psikologis yang begitu besar dialami masyarakat kita. Dalam masalah pendidikan, pemerintah telah mewajibkan pendidikan wajib sembilan tahun. Artinya jika mewajibkan seseorang untuk mengikuti pendidikan dasar 9 tahun harusnya disertai kesiapan untuk menggratiskan pendidikan, tidak hanya gratis spp, tapi seragam,l malah lebih mahal lagi, buku yang jadi objekan, dll.
Saudara-saudara kita masih banyak yang tidak mampu untuk membiayai kebutuhan dasarnya(primer), apalagi menyekolahkan anak. Dibutuhkan kebijaksanaan bagi setiap pemegang KTP WNI untuk ikut peran aktif membantu meringankan beban-beban mereka, sekecil apapun akan berarti besar bagi mereka…..
Jika disimak, banyak hal yang menjadi penyebab, tidak hanya kemiskinan yang menjadi persoalan dinegeri ini, sistim dimana pendidikan ternyata tidak mampu memotivasi para peserta didik, bahkan terkesan megenyampingkan masalah moralitas. Fenomena yang terjadi sejauh ini bahkan meningkat kearah yang menghawatirkan. Kekerasan dalam dunia pendidikan juga merajalela, beberapa sindikasi munculnya gang-gang negative dalam sekolah-sekolah seperti yang dilansir media beberapa waktu lalu turut mewarnai dunia pendidikan kita, belum lagi tawuran dan lain sebagainya. Haslinya ?,, coba simak pilkada –pilkada yang berlangsung di berbagai daerah itu juga adalah hasil-hasil capaian pendidikan kita. Kebiasan-kebiasaan yang diajarkan dibangku sekolah ternyata tidak cukup untuk membuat perilaku moralitas kita semakin baik. Pendidikan yang kita jalani dibangku sekolah ternyata tidak mampu menyentuh aspek moralitas. Anggapan bahwa Moralitas berada dalam ranah Agama sangat tidak dapat diterima, sebab moralitas adalah tanggung jawab setiap lembaga terutama pendidikan. Dalam pengertian pendidikan sangat tersirat makna moralitas yang mendalam.
Beberapa anggapan jika kita berlaku, abmoral, pasti akan mendapt umpatan dari orang lain…”tidak pernah sekolah apa?” artinya morallitas adalah bagian inti dari pendidikan dan tidakk hanya kepandaian dalam hitung menghitung.
Jika demikian maka, kedisiplinan, kejujuran, pengertian dan salaing asah asih-asuh adalah kunci yang harus ditekankan dalam dunia pendidikan sebagai proses pembelajaran.
Bagaimanapun juga tinta merah kita hapus melalui pendekatan-pendekatan moralitas dalam dunia pendidikan
Salam
OFF

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s