Empat Tahun Tsunami Aceh

Posted: December 27, 2008 in avonturir

26 Desember 2008, tepat empat tahun bencana gempa dan tsunami. Itu juga berarti hampir empat tahun keberadaan saya di bumi serambi ini, tinggal menghitung hari saya juga sepertinya harus mengadakan peringatan pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini. B1anyak hal yang telah saya lalui, banyak kisah manis dan sedih berada diantara orang-orang yang sama sekali baru saya kenal. Di tanah ini juga saya berkenalan dengan banyak orang, asal yang berbeda dengan karakter yang bermacam-macam.  Hikmah dan pengalaman bekerja sebagai pekerja kemanusiaan sungguh sangat banyak dan menyentuh, tapi bagi saya seprtinya belum berbuat banyak untuk membantu sesama yang sayamemang sangat memerlukan.

Sejak pertama datang ditanah ini sampai hari ini saya menyaksikan sebuah dinamika yang luar biasa, saya melihat dengan jelas januari 2005 keadaan sangat berbeda dengan pemandangan hari ini, betapa tidak Januari 2005 pemandangan yang terlihat penuh dengan duka, bangunan yang semrawut, sampah tsunami yang berserakan, bangunan yang bayak rontok, mayat yang bergelimpangan, sudut-sudut kota yang penuh dengan pengungsi, ribuan tentara, polisi, pekerja kemanusiaan hilir mudik tak kenal waktu, bahkan bau lumpur tsunami menguasai tanah ini. Pada waktu itu semua sibuk dengan tujuan yang sangat terfokus bekerja untuk membantu, mengakkan kembali harkat hidup yang runtuh, menggeliatkan kembali kehidupan yaang direnggut maut bencana. Jiak malam kota gelap gulita tanpa pencahayaan, kendaraan hampir tidak ada yang melintas di jalan-jalan kota, sepi senyap mungkin para pekerja kemanuasiaan tenggelam dalam kelelahan disian hari atau juga masih was-was dengan keadaan dimana pada waktu itu konflik bersenjata masih terjadi di tanah ini.Bahkan saya pun jika ingin keluar kearah pondopo gebernur dari Rumah sakit Zainal Abidin harus berjalan kaki dalam kegelapan malam, bukan apa-apa waktu itu memang kendaraan umum tidak ada kalo malam, suasananya juga mencekam.

Disaing hari orang sibuk, para pekrja sibuk mengurus bantuan, mengevakuasi mayat, mengurus rumah sakit darurat, membersihkan jalanan, mendistribusikan bantuan ke sentra-sentra pengungsian yang bayak tersebar disudut-susdut kota, dan banyak lagi 2kegiatan yang arahnya terfokus pada kemanusiaan. Jika menyaksikan hari itu, kita tak yakin tanah ini akan kembali kepada kondisi normal, membayakannya saja, sudah lelah apalagi harus bekerja membangun kembali. Bukan apa-apa, akumulasi masalah sangat banyak dan yang palin parah adalah tekanan psykologi bagi masyarakat setempat, gairah hidup yang tidak lagi ada. Sangat di maklumi, dan manusiawi sifatnya jika orang-orang yang sangat kita kasihi tiba-tiba hilang dan berpulang secara tiba-tiba dan tidak hanya seorang bahkan lebih dari tiga orang bahkan ada satu rumpun keluarga. Wajar jika tekanan-tekanan ini sangat mempengaruhi orang-orang yang masih hidup pada saat terjadi bencana, gairah hidup pasti akan menghilang.

Saya pun membayangkan pemulihannya akan memakan waktu panjang. dan berlarut-larut. Tapi ternyata, kekuatan kebersamaan mematahkan semua prediksi saya. Gabungan masyarakat internasional telah berhasil bekerja bersama, perlahan namun pasti jalanan sudah bersih, rumah-rumah bantuan dan gedung pemerintah terbangun, pengungsi tahap demia tahap berhasil menempati rumah baru, sekolah mulai bergeliat, ekonomi berjalan, pasar-pasar rakyat di hidupkan kembali, dan yang mengharukan luka didalam hati mulai sembuh.

Empat tahun tsunami pemandangannya sungguh berbeda, tahapan proses pemulihan mulai dari tanggap darurat sampai rehabilitasi dan rekonstruksi telah berhasil setidaknya mencapai taraf yang signifikan. Jika tahun-tahu sebelumnya saya masih melihat kendaraan-kendaraan yang hampir semuanya bertuliskan pemulihan aceh, peduli aceh atau tanggap bencana dsb, sekarang kita sangat jarang melihat lagi kendaraan ngo yang lalu lalang, artinya kondisi memang sudah membaik dan kembali kepada masyarakat untuk berdinamika seperti layaknya daerah lain, hidup normal tanpa bergantung lagi pada uluran bantuan daerah lain. Haari ini kendaraan pun sudah sangat ramai terutama do kota banda Aceh, raut muka para penduduk sudah jauh dari tekanan seperti saat pertama aku datang di kota ini.

Yang tampak ramai pada peringatan kali ini adalah, kuburan-kuburan massal, yang terletak di pinggiran-pinggiran kota. Sejak tsunami kuburan massal memang berada di beberapa lokasi, karena untuk menyatukan disatu lokasi tidak memungkinkan. Peziarah akan mendatangi hampir semua kuburan massal untuk memanjatkan doa, sebab keluarga atau handai tolan yang menjadi korban tidak ketahuan di kubrkan di kuburan yang mana, jadi satu-satunya cara bagi mereka adalah berdoa dikuburan-kuburan massal tersebut. Pemandangan empat tahun dibeberapa kuburan massal sanagat berbeda di tahun pertama, histeria sudah jauh berkurang berganti dengan hikmat yang mendalam, memang linangan air mata masih membasahi pekuburan-pekuburan tersebut.

Hari ini saya mengucapakna terima kasih dan selamat bagai semua yang telah menorehkan warnah bagi kemanusiaan di Aceh. Apapun dan sekecil apapun anda telah mengambil bagian dalam kerja bersama membagun, dan membangitkan Aceh yang sempat terpuruk.

OFF

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s