Komunitas

Posted: November 15, 2008 in Komunitas

Pernah kiranya suatu waktu dimasa lalu terbentuk suatu pola masyarakat yang saling peduli, saling berbagi dan saling menolong. Suatu kelompok masyarakat dimana persaudaraan dan kebersamaan ditempatkan diatas segalanya. Kala itu, kekompakan dan kebersamaan dirasakan begitu indah, begitu penting tidak hanya untuk menangkis pengaruh negatif dari luar tetapi kebersamaan tersebut memberikan rasa aman sehingga pengembangan diri masyarakat tersebut menjadi bermakna dan relatif penuh dengan agresifvitas, terlebih lagi setiap anggota masyarakat tersebut dapat dengan tenang mengembangkan kemampuannya. Zaman itu dalam dunia Islam kita kenal dengan zaman awal berdirinya islam. Rasulullah S.A.W menjadi pelopor dan pimpinan komunitas tersebut (komunitas muslim). Suatu prosesi panjang lahirnya agama Islam yang penuh dengan tantangan dan nilai heroik yang begitu tinggi. Betapa tidak, tantangan yang dihadapi Rasulullah S.A.W sebelum mencapai taraf kesempurnaan sebuah komunias (setidaknya jika dibandingkan dengan masyarakat lain) mendapat perlawanan dari kaum jahiliyah, suatu kaum yang sangat mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Zaman ini di peloporo oleh kaum qurais di tanah arab dengan budaya yang sangat merendahkan manusia dan kemanusiaan, sebagai contoh penghrgaan terhadap kaum wanita yang sangat rendah bahkan terkadang budaya mereka memperbolehkan menyembelih anak-anak wanita mereka dan membiarkan kaum lelaki. Dan jika kita telusuri, hal semacam itu sangat beragam dan bervariasi.

Tetapi semenjak kedatangan Rasulullah SAW dengan pola pembaharuannya, perlahan-lahan terjadi perubahan mendasar dalam budaya bangsa Arab. Tidak sedikit pengorbanan yang harus dilakukan oleh Rasullah SAW dalam menjalankan strategi perubahan tersebut, dikarenakan kaum Quraisy berusaha mempertahankan budaya-budaya mereka, mempertahankan status quo yang mereka miliki selama ini.

Perlahan namun pasti, perubahan terjadi juga, diawali dengan hijarahnya Rasulullah ke Yestrib atau Madinah, ditempat inilah terbentuk jalinan masyarakat dalam pola komunitas yang mapan dan paling sempurna yang pernah dikenal manusia. Dasar utamanya kebersamaan dan kekeluargaan dengan mengutamakan kelompok diatas kepentingan pribadi. Perlahan namun pasti komunitas yang awalnya kecil sampai menggemAa ke seantero dunia, menjadi contoh bagi banyak orang di muka bumi ini.

Namun sayangnya tidak banyak orang yang mampu menrapkan cara-cara Rasulullah dalam membangun komunitasnya, gagal karena tidak atau kurang memahami pola dasar membangun sebuah komunitas yang efektif dan dapat membawa perubahan yang besar dalam masyarakat. Pada hal terlepas dari dasar islam sebagai pondasi dasar Rasulullah membangun kelompoknya, ada nilai universal yang membuat komunitas tersebut bisa seperti komunitas yang dibangun masa itu.

1. Pola persaudaraan dan kekeluargaan

Adalah menjadi harga mati suatu persaudaraan dan kekeluargaan jika dipandang bahwa persaudaraan adalah memiliki satu tubuh dan jiwa. Seperti jika tangan terluka maka seluruh tubuh akan menderita. Seperti itulah kiranya persaudaraan dan kekeluargaan dipandang pada Zaman Rasulullah. Jika saudara mengalami suatu penderitaan, maka anggota komuniats lain merasakan seperti yang diderita saudaranya, setidaknya hal ini terlihat dari kolaborasi antara kaum pendatang dan tuan rumah (muhajirin dan anshar)

2. Pola menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi.

Hilangnya sikap peka terhadap lingkungan menjadi awal dari hancurnya bangunan keharmonisan satu komunitas. Tentunya hal ini sangat bersifat subjektif karena sasarannya adalah individu dari setiap anggota komunitas tersebut. Sikap egoisentrisme atau ananiyah hanya akan membentuk pola hidup yang takberkemanusiaan dalam satu komunitas tertentu. Betapa menakutkannya sifat egois seseorang sampai dapat mengarah pada kehidupan yang tak manusiawi. Hal ini sangat wajar terjadi karena kehidupan bersama mengharuskan adanya komunikasi yang inherent. Rasa toleransi serta kesadaran untuk berbagi merupakan unsur pembentuk yang wajib terpenuhi dalam membentuk kehidupan yang manusiawi. Seandainya satu komunitas nihil dari unsur-unsur tersebut maka kehidupan yang sehat dan harmonis mustahil akan tercipta.

Kehidupan yang berkebudayaan hanya mungkin tercipta jika setiap individu di dalamnya mempunyai sifat toleran, sadar diri, peka terhadap lingkungan, dan kemauan untuk memanusiakan orang lain. Sifat-sifat tersebut tidak lain adalah oposite atau kebalikan dari sifat ananiyah atau egoisentrisme.

Selain membuang jauh sifat egoisentrisme dalam diri kita faktor lain yang penting untuk diperhatikan dalam kehidupan bersama adalah kesadaran untuk berbagi, dan kemauan untuk memanusiakan orang lain.

Kehidupan akan terasa dingin dan beku ketika tidak ada kesadaran untuk berbagi diantara setiap anggota komunitas. Juga kesadaran untuk tidak melakukan sesuatu yang akan berakibat merugikan orang lain.

3. Pola niat yang lurus dan tulus dari setiap orang untuk menjadi bagian dari suatu komunitas tertentu dengan mengutamakan kejujuran dan keadilan.

Niat untuk menjalani kehidupan bersama seperti poin satu dan dua diatas akan menjadi bermakna jika dilandasi oleh nilai kejujuruan dalam bertindak dan keadilan dalam menempatkan suatu sisi kehidupan ditengah masyarakat atau komunitas tersebut.

Zaman kita hidup saat ini berbanding terbalik dengan keadaan masa itu dimana pola-pola komunitas diatas sangat jauh berbeda, jika pun ada hanya sebagaian yang diambil dan sebagian yang dijalankan. Dan yang paling nampak adalah mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan masyarakatnya, yang lebih menyakitkan adalah mereka dengan tega mengatasnamakan kepentingan masyarakat untuk kepentingan pribadi, megeruk keuntungan yang sebasar-besarnya demi memuaskan nafsu pribadi. Tidak usah berbicara tentan apa yang terjadi di negara lain, mari kita lihat Indonesia sebagai tempat kita bertumpah darah, ibu pertiwi ini, betapa nilai-nilai atau pola masyarakat yang ideal sangat jauh dari harapan, jauh ditinggalkan oleh para pemimpin komunitas/masyarakat, malah mencerai beraikan anatara sesama, sebagai contoh sistim multi partai telah berhasil menjadikan sesama anak bangsa harus menjadikan negeri ini sebagai medan laga sepanjag waktu, pemilihan pemimpin politik dan lain sebagainya semakin menambah daftar panjang sejarah perpecahan anatar golongan dinegeri ini. Mengapa terjadi ? tentulah bukan sistim yang dipersalahkan tetapi kita sangat jauh dari poin-poin pola komunitas seperti yang digambarkan diatas, setiap orang memandang persaudaraan hanya sebagai kulit pemanis bibir, secara sembunyi menempatkan kepentingan pribadi diatas kepentingan kelompok dan tiada keihlasan, kejujuran keadilan, menjadikan dirinya berperilaku lurus.

Kita terjebak dengan kapitalis-kapitalisme rendah, memburu materialisme secara berlebihan dengan segala cara, bahkan mengorbangkan banyak orang untuk ambisi pribadi. Tidak jarang pola korupsi, kolusi dan nepostisme menjadi warna keseharian masyarakat kita, menimbulkan ketidak adilan makro dimasyarakat, memicu perilaku-perilaku masyarakat yang tak terkendali dan berjalan menuju kehancuran moral dan materil.

Adalah tugas kita semua jika ingin mem[perbaiki tatanan masyarakat yang lebih baik dengan membangun pola komunitas yang sewajarnya seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sangat sederhana dan tidak mengada-ada, tetntulah untuk memulai hal ini dibutuhkan seorang pemimpin yang kharismatik dan mempunyai visi yang kuat tentang penguatan masyarakat secara totalitas.

Hal ini bisa dimulai dari lingkungan kecil, teman sepergaulan dan apapun bentuknya sepanjang memiliki pola dasar yang kita sebutkan diatas pasti akan dapat membawa kebajikan bagi orang lain tidak hanya komunitasnya saja.

Salam OFF

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s