Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Posted: November 12, 2008 in biography

PENJAGA DAN PENGAMAL HADITS

(Biografi Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

Hidupnya dijalani dengan mengikuti sunnah Nabi saw. Peneliti hadits yang andal di era kontemporer ini. Keilmuannya menangkis berbagai paham sesat yang tumbuh di masyarakat. Karya-karya beliau memberi semangat kepada umat untuk selalu meneliti derajat hadits dan menjaga kemurniannya.

NAMA lengkapnya adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani (Lahir tahun 1333 H di kota Ashqodar, ibu kota Albania). Ayah al Albani, Al Haj Nuh, adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), itu. Ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, Syekh Nuh memutuskan untuk berhijrah ke Syam. Keputusan itu diambil guna menyelamatkan agama dan sekaligus untuk menghindari terjadinya fitnah. Keluarga ini menuju ke Damaskus.

Setiba di Damaskus, Syekh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Ia masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Usai tamat, ia menuntut ilmu langsung kepada para syekh. Dari ayahnya, ia belajar Al-Quran dan fikih madzab Hanafi. Selain belajar ilmu-ilmu agama, Al-Albani juga belajar ketrampilan untuk memperbaiki jam dari ayahnya. Kelak, karena keahliannya itu, Al-Albani dikenal sebagai seorang tukang servis jam yang amat masyur. 

Di usia 20 tahun, pemuda al-Albani mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits. Ia menjadi tertarik belajar hadits karena terkesan dengan pembahasan-pembahsan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni `an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar. Sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang ada pada kitab Ihya` Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Kegiatan Syekh al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar, “Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).”

Namun Syekh Al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syekh Al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah yang berada di pusat kota Damaskus. Hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai ia menutup kios reparasi jamnya. Dalam sehari, Syekh Al-Albani bisa menghabiskan 12 jam membaca buku di perpustakaan adh-Dhahiriyah.

Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu shalat tiba. Akhirnya, kepala kantor perpustakaan memberi sebuah ruangan khusus untuknya. Bahkan kemudiaan ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Hal ini membuatnya menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya, ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, Al-Albani justru pulang setelah shalat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun. Enam Tahun di Rumah Syekh Albani

Abu Abdurrahman Muhammad Al Khatib, menceritakan tentang Syekh Albani. “Pada hari sabtu 2 oktober 1999 ribuan bahkan jutaan orang menangis, mereka menangis karena mendengar sebuah berita duka, yang merupakan musibah besar dengan wafatnya seorang Imam besar.

Berita duka ini sampai kepadaku seusai shalat ashar dari istri beliau rahimahullah. Dengan serta merta aku menuju rumah sakit tempat beliau dirawat. Disana aku jumpai istri dan putra beliau Abdul Lathif yang menemani beliau selama masa perawatan.

Setelah masuk kamar tiba-tiba kusaksikan dihadapanku jasad Syaikh rahimahullah yang telah ditutup dengan selembar kain, dibaringkan diatas sebuah tempat tidur. Air mataku mengalir tidak mampu menahan tangisan atas kepergiannya.

Kubuka wajahnya yang bercahaya lalu kucium keningnya. Kami mengangkat jasadnya untuk dimuat disebuah mobil milik salah seorang teman, lalu membawanya ke rumah duka.

Ikut bersama kami di mobil jenazah, putra beliau Abdul Lathif. Ia sangat sedih dan banyak mengucurkan air mata. Kami menghibur dan menasihatinya untuk bersabar. Ia hanya memandang kami sedang kedua matanya meneteskan air mata yang banyak.

Abdul Lathif menceritakan kondisi ayahnya sehari sebelum wafat, ia berkata : ‘Hingga kemarin dalam kondisi sakitnya yang semakin parah ayah masih sempat berkata : Berikan kitab shahih sunan Abi Dawud!!’
Aku katakan : ‘Subhanallah (Maha suci Allah), semoga Allah SWT. membalas kebaikanmu ya Syekh. Sungguh engkau telah hidup sepanjang usiamu, siang dan malam, engkau membela Sunnah Rasul saw hingga akhir hidupmu.

Dalam kondisi tidak mampu menegakkan punggungmu, aku melihatmu menyuruh putra atau cucu-cucumu menulis, tanpa mengenal sakit dan tidak pula mengeluhkan kesakitanmu. Semua itu tiada lain kecuali anugerah dan keutamaan dari Allah swt yang diberikan kepadamu, maka Dia-lah yang maha pemberi karunia dan keutamaan’.

Sesampainya kami di rumah Syekh, di sana kami jumpai beberapa teman yang telah mendahului kami dan mulailah para ikhwah berdatangan dari berbagai pelosok kota Amman , tempat Syekh berdomisili selama lebih dari delapan belas tahun. Kami bergegas mempersiapkan jenazah Syekh rahimahullah, memandikan dan mengafaninya. Begitu selesai menyiapkan, kami mengeluarkan dan meletakkannya di sebuah ruangan besar.

Seketika rumah Syekh rahimahullah telah penuh sesak oleh pelayat yang terdiri dari para pecinta dan murid-muridnya. Syekh Abu Malik mengisyaratkan kepada kami agar wajah Syekh tidak ditutup sehingga para pelayat melepaskan kepergiannya.

Mereka pun segera mencium kening Syekh sebagai tanda perpisahan dengannya. lalu jenazah disiapkan untuk dishalatkan. Para ikhwan yang bermusyawarah tentang tempat pemakamannya, aku katakan kepada mereka bahwa Syekh rahimahullah berulang-ulang menyebutkan kehendaknya di depanku, beliau ingin dikuburkan di pemakaman yang terletak pada sisi jalan yang menuju ke rumahnya agar tetap mendapat ucapan “salam” dari saudara-saudara dan pecintanya.

Di antara wasiat beliau sebagaimana yang dikatakan oleh putranya Abdul Lathif, agar jenazahnya dibawa dari rumahnya ketempat pemakaman dengan cara dipikul, setelah para pelayat melepaskan kepergian beliau, kami segera keluar dari rumah untuk menshalatkannya. Demikian sang Imam dan tokoh ini kembali kepada Rabbnya Tabaraka wata`ala dengan meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat, tergores di sela-sela ratusan karya tulisnya yang kemudian Allah mentakdirkannya diterima di seantero dunia bahkan sebagiannya telah diterjemahkan ke beragam bahasa di dunia ini.

Demikian pula beliau telah meninggalkan sejumlah muridnya yang berjalan di atas manhaj salaf yang dianutnya selama hidup beliau. Semoga dengan pertolongan Allah SWT merekapun akan berjalan di atasnya hingga datangnya ajal.

Aku mengenal beliau rahimahullah semenjak 23 tahun yang lalu. Usiaku pada saat itu menginjak empat belas tahun.

Sungguh Allah SWT telah menganugerahi aku nikmat dan karunia-Nya sejak aku mengenal manhaj salaf dan mencintainya. Tidak pernah kutinggalkan setiap jalan yang menunjukku kepadanya, kecuali kutempuhnya. Aku berkenalan dengan murid-murid syekh, duduk dan berteman dengan mereka. Aku mulai membeli kitab-kitab syekh dan kitab yang pertama kubeli adalah ‘shifat shalat Nabi saw’. Aku selalu menanti kedatangan Syekh dari negeri Syam sebagaimana biasa untuk menyampaikan kajian-kajian.

Pada tahun 1980, Syekh berhijrah dari negeri Siria ke Amman (Yordania). Yang kemudian menjadi tempat domisilinya. Beliau memilih tinggal di perkampungan yang sederhana. Ia pernah ditawari sebidang tanah oleh seorang kaya yang terletak di sekitar kota Amman , namun tetap ditolaknya dan bersikeras untuk tetap tinggal di tengah–tengah kaum muslimin yang berekonomi lemah. Kota Amman pun gembira atas kedatangan Syekh sebagaimana para pecintanya. Selama enam tahun telah kulalui bersama Syekh di rumahnya, setiap hari selalu kudapati ilmu sebagaimana aku pun telah belajar darinya tentang akhlaq. Maka apakah yang hendak kuceritakan ?

Syekh rahimahullah adalah seorang yang penuh kasih sayang dan belas kasihan. Sekali waktu pernah beliau katakan padaku, ‘Hai Muhammad, engkau tidak memiliki kendaraan (mobil), sementara putra-putrimu perlu beristirahat (bertamasya), maka siapkan hari apa saja yang kamu inginkan, kita akan pergi bersama agar kamu bersenang-senang bersama mereka’. Dua hari kemudian, kami siapkan apa yang diperlukan, lalu keluar bersama syekh dan istrinya ke sebuah tempat tamasya di luar kota Amman . Dan beliau membawa makanan serta beraneka buah-buahan sehingga anak-anakku sangat gembira.

Suatu ketika aku pernah bekerja dan memperbaki pada bagian atap rumah Syekh. Aku mengangkat dan memindahkan sebuah kayu besar, hingga aku merasa keberatan dan hampir terjatuh dari atap rumah, kalau saja bukan karena karunia Allah SWT padaku. Mendengar peristiwa itu, Syekh segera memuji Allah SWT atas keselamatanku dan langsung menyungkur bersujud kepada Allah SWT mensyukuri-Nya, sedang kedua matanya mengucurkan air mata, menangisi kejadian ini. Lalu dikeluarkan dari sakunya sebanyak seratus dinar dan diberikannya kepadaku.

Syaikh Albani adalah seorang yang berperangai wara`, selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat dan syubhat. Pernah suatu ketika beliau menjadi penengah bagi seorang yang ingin bekerja di salah satu perusahaan persero. Selang beberapa hari, orang tersebut mengetuk pintu rumah beliau sambil membawa sejumlah buah zaitun dan menuturkan kepadaku: ‘Ini adalah hadiah untuk Syaikh’, pada waktu itu Syaikh sedang tidur.

Setelah bangun dari tidurnya kusampaikan amanat orang itu. Dengan serta merta Syaikh bertutur: ‘Tidak halal bagi kita untuk memakannya, karena telah disabdakan oleh Rasulullah saw(yang artinya)’:

Barang siapa yang menolong seseorang dengan suatu pertolongan, lalu diberikan kepadanya hadiah dan diterimanya, berarti dia telah mendatangi salah satu pintu riba.

Maka kami segera membagi-bagikannya kepada para fuqara`. Sering kali aku anjurkan Syekh untuk membangun masjid, atau memberi kepada seorang fakir atau para janda atau seorang peminta-minta, dan tidak pernah beliau menolak. Banyak cerita dalam masalah ini di antaranya: ‘Pernah datang kepada beliau seorang penderita sakit yang pengobatannya dengan menggunakan suntikan. Ia harus disuntik sebanyak 15 kali dengan biaya setiap suntikan 20 dinar. Syekh menyuruh aku untuk meneliti kebenarannya. Setelah mengetahui kebenarannya, beliau memberi kepadaku biaya yang dibutuhkan lalu kubelikan suntikan tersebut.

Ketika hendak membangun rumahku aku memerlukan dana, maka kudatangi beberapa rumah dan mengetuk pintu-pintu mereka (untuk meminta pinjaman, pent) namun hasilnya nihil. Aku teringat seorang yang cukup mampu, dia dikenal oleh Syekh. Maka kukatakan kepada istrinya, ‘Tolong sampaikan kepada Syekh jika beliau berkenan menjadi perantaraku agar orang itu memberiku pinjaman’.

Keesokan harinya ketika aku sedang duduk dikantorku. Syekh berkata, ‘Ya Muhammad! engkau menghendaki agar aku menjadi penengahmu terhadap si fulan agar dia memberimu pinjaman?’. Aku bertukas, ‘benar’. Lalu kata Syekh rahimahullah, ‘Aku lebih utama terhadapmu dari pada orang itu, aku berikan kepadamu seberapa yang kamu perlukan’. Aku pun menangis lalu kukatakan padanya, ‘Ya Syekh kami, semoga Allah SWT membalas kebaikanmu’. Demi Allah SWT tidak pernah terbersit dalam hatiku bahwa apa yang kucari akan kudapati dari Syekh karena aku tidak pernah melihat apa yang ada padanya. Ketika dana pinjaman itu diberikan padaku beliau berkata, ‘Yang seribu dinar ini sebagai hadiah untukmu, tidak terhitung sebagai pinjaman. Aku pun menangis untuk kedua kalinya, semoga Allah SWT membalasnya rahimahullah.

Pernah suatu ketika istriku hampir melahirkan. Sementara Syekh selalu bertanya tentangnya. Sehari sebelum istriku melahirkan bayinya, tatkala aku akan meninggalkan perpustakaan, beliau berkata kepadaku, ‘Silahkan ambil mobil ummul Fadhl [Ummul fadhl adalah istri Al-Albani yang keempat]. Karena mungkin kamu memerlukannya di tengah malam’. Mobil itu kubawa selama dua hari dan ternyata benar, saat melahirkan tiba ditengah malam. Aku keluar dari rumahku, aku tidak tahu hendak pergi kemana? Setelah berupaya mencari seorang bidan dan tidak kutemukan, terfikir olehku bahwa istri Syekh rahimahullah memiliki pengalaman dalam hal kelahiran.

Aku segera menuju ke rumah beliau, sedang aku dirundung keragu-raguan karena khawatir akan mengganggu dan mengejutkannya di saat-saat seperti ini. Aku mengetuk pintu rumahnya, beliaupun menjawabku, lalu kusampaikan kepadanya permohonan maafku yang sebesar-besarnya dan memberitahukan keperluanku. Beliau menjawabku sambil bercanda, ‘Mengapa kamu tidak lakukan seperti Syekhmu? Sungguh aku telah membantu sendiri istriku ketika melahirkan’. Lalu beliau melanjukkan dengan mengucapkan, ‘Sebentar, aku akan membangunkan Ummu Fadhl, dia akan pergi bersamaku’. Lalu kami pun diberi oleh Allah SWT seorang putra bernama Abdullah.

Ada mutiara hikmah yang selalu kukenang dari Syekh Al-Albani, Itmaamul ma’ruf khairun minal bad i bihi (Menyempurnakan suatu yang ma`ruf lebih baik dari pada memulainya).

Syaikh Al-Albani seorang yang selalu memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya, sehingga seorang merasa cukup dengan sesuatu dari bantuan beliau. Syekh merasa senang dan selalu bertekad untuk menyempurnakan bantuannya. Namun orang yang dibantu segera berkata, ‘Menyempurnakan sesuatu yang ma’ruf lebih baik dari memulainya’. Banyak ilmu yang kami dapat dari mutiara hikmah ini dalam bermu`amalah dengan saudara-saudara kami.

Inilah hal penting yang dapat kusajikan untuk para pembaca dari sela-sela kehidupanku bersama beliau selam 6 tahun. Bisa jadi musibah kematian Syekh membuatku lupa akan banyak hal.

Saya yakin bahwasanya banyak peristiwa dan sikap-sikap yang wajib kucatat sebagai sebuah catatan bersejarah untuk memenuhi hak-hak Syekh rahimahullah.”

Dalam perjalanan hidupnya, Syekh al-Albani Beliau pernah mengajar di Jami`ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu ia pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkannya memenuhi permintaan tersebut. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H ia kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam`iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation pada 14 Dzulkaidah 1419 H.

Karya-karya Albani amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. Beberapa Contoh Karya

Beliau yang terkenal adalah :
1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
2. Al-Ajwibah an-Nafi`ah `ala as`ilah masjid al-Jami`ah
3. Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha`ifah wal maudhu`ah
5. At-Tawasul wa anwa`uhu
6. Ahkam Al-Jana`iz wabida`uha

Di samping itu, juga ada kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.

Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami`ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat nabi radhiyallahu anhum), pada saat ia menjadi pengajar disana.

Pada hari Jum`at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania, Syekh Al-Albani meninggal dunia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s