Avonturir di Aceh

Posted: November 12, 2008 in avonturir

26 Desember 2004, suatu harguei yang tak pernah bisa dilupakan oleh masyarakat Aceh, tidak juga bangsa Indonesia bahkan dunia sekalipun. Hari itu adalah hari yang sangat bersejarah dari berbagai sisi, juga menjadi hari yang sangat memilukan, mengharukan. Sebuah tragedi kemanusiaan yang amat sangat dahsyat yang menawaskan kurang lebih 250.000 orang, korban luka dan kehilangan materi lebih banyak lagi. Semanjung Aceh luluh lantak, anak beranak cerai berai, suami istri berpisah entah dimana.

Hari itu dua bencana alam memadu kasih, Gempa dan Tsunami adalah pasangan yang sangat mengerikan bagi siapa saja yang berada dimuka bumi ini. Keduanya seakan berkomplot menghancurkan apa saja yanga ada dihadapan mereka, kerjasama yang apik dan kompak untuk menghancurkan tiap yang bernyawa, melukai yang masih selamat dan mengiris kepiluan bagi mereka yang tertinggal.

Bumi Aceh dan daerah lain yang terkena dampaknya mengiris memilukan melihat betapa akibat yang ditimbulkan sangat luar biasa. Anggota keluarga dan segala kemewahan serta kemegahan tak dapat membendung sejoli tersebut bahkan mencerai beraikan mereka dalam keterpurukan yang begitu mendalam selama bertahun-tahun selepas kejadian itu. Mayat-mayat yang bergelimpangan, reruntuhan gedung yang menggunung menutup semua akses jalan disepanjang pantai Barat Aceh, ribuan tangis anak,istri dan para handai taulan menggema hari itu dan keesokan harinya.

Setelah hari itu, mata dunia terbuka. Barangkali untuk pertama kalinya hampir seluruh negara yang ada dimuka bumi ini mengirimkan tidak hanya bantuan materi tetapi tenaga secara langsung menyingkirkan puing-puing,mengevakuasi korban dan menolong mereka yang masih hidup,terluak ataupun terpuruk oleh tekanan psykology yang begitu dalam.

Tepat tanggal 3 Januari 2005, Kami naik ke kapal laut dan bertolak dari pelabuhan laut Makassar pada tanggal 4 Januar menggunakan Kapal Angkutan milik salah sorang pengusahan kaya Makassar, KM Rania menuju Jakarta, berenam kami mengarungi laut Sulawesai mengawal amanah bantuan dari masyarakat SulSel kala itu, empat truk bantuan yang terdiri dari pakaian, makanan dan barang-barang yang akan disumbangakan kepada korban Tsunami di Aceh. Empat hari selanjutnya kami tiba di pelabuhan tanjung priok dan tinggal dijakarta selam dua hari menuggu kapal selanjutnya yang akan mengangkut bantuan Ke Aceh. Tepat tanggal 10 kami bertolak Ke Aceh menggunakan KM Fudi bersama rekan-rekan relawan,tentara dan polisi yang jumlahnya sangat banyak, semua mempunyai satu takad membantu dan meringankan beban masyarakat Aceh. Empat hari selanjutnya kami tiba di Pelabuhan laut Lhoksemawe Nangroe Aceh Darussalam, sebuah daerah kabupaten/kotamdya yang berjarak kurang lebih 10 Jam perjalanan dari Banda Aceh kearah timur.

Segera kami melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh, pada waktu itu kami dijemput oleh teman-teman relawan dari makassar yang tibah lebih dahulu di Banda Aceh (menggunakan pesawat). Denga mengendarai mobil Kijang (kapsul warna merah), kami bertolak ke Banda Aceh kurang lebih pukul 11 malam kami tiba di Banda Aceh, Keadaan sewaktu sampai terkesan biasa saja maklum saat itu lampu masih padam dikota Banda Aceh dan sekitarnya, kami tiba dalam keadaan gelap jadi tidak melihat keadaan sekitarnya seperti apa penampakannya, juga karena pengaruh keletihan dalam perjalanan. Posko Bantuan SulSel saat itu berada di RS.Zainal Abidin Banda Aceh.

Keesokan harinya baru kelihatan, dengan mata kepala terlihat betapa luluh lantak bumi Aceh di sepanjang pantai barat, mayat masih bergelimpangan pada hal hari itu sudah tanggal 15 Januari 2005 kurang lebih dua minggu bencana itu berlalu. Ribuan relawan hari demi hari bertambah banyak mendatangi Aceh, melihat dan membantu secara langsung masyarakat Aceh. Pada waktu itu batasan ras, bangsa, agama dan suku tersingkir oleh kemurnian tekad menolong sesama manusia , bahu membahu, siang dan malam bekerja tanpa pamrih, tidak mengenal lelah.

Hari-hari selanjutnya dapat dibayangkan betapa pekerjaan mengurus mayat, menolong yang terluka, membantu yang masih hidup menjadi kebiasaan sehari-hari selama beberapa bulan selanjutnya. ….

Inilah sepenggal kisah..dimana waktu itu untuk pertama kalinya menginjak kaki di Bumi Aceh, serambi mekah…menjadi Volunteers kemanusiaan dan membawa mozaik-mozaik hidupku selanjutnya.

off……..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s